Ternak Pedaging Lokal Indonesia+62admin@pusatstudipedaging.com

Kunjungan Tim Peneliti Pusat Studi Ternak Pedaging Ke PT Austasia Lampung

Kunjungan ini merupakan salah satu kegiatan Penguatan Pusat Studi Ternak Pedaging yang bertujuan untuk melihat secara langsung sistem manajemen peternakan sapi potong terutama sapi wagyu yang saat ini sedang dikembangkan di PT.

Peneliti Pusat Studi Ternak Pedaging saat Berkunjung ke PT Austasia

Austasia dari mulai unit pembibitan, fattening,dan pakan. Selain itu dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan peluang kerjasama antara perusahaan dan pusat studi dalam hal magang kerja ataupun penelitian.

 

Dalam kesempatan ini tim UB yang terdiri dari Aulia Puspita Anugra Yekti dan Asri Nurul Huda disambut langsung oleh manager breeding Bapak Kuncup dan head of unit PT. Austasia, Bapak Charles. Dalam kesempatan ini Bapak Kuncup mempresentasikan tentang profil perusahaan dimana PT. Austasia merupakan anak perusahan dari PT. Japfa yang bergerak di bidang sapi potong, selain itu juga dijelaskan lini bisnis yang sedang dijalankan oleh perusahaan dimana antara lain adalah breeding Wagyu dan Fattening sapi BX dan Wagyu.

Hari kedua diawali dengan kunjungan ke lapang didampingi oleh Bapak Wisnu. Dalam kesempatan ini bapak wisnu menjelaskan secar detail setiap bagian dari unit kandang dimulai dari hutches yaitu tempat pemeliharaan pedet baru lahir yang dipelihara di kandang individu sampai lepas sapih. Selanjutnya kunjungan ke kandang fattening sapi wagyu dan sapi BX dimana ada perbedaan jangka waktu pemeliharaan yaitu untuk sapi BX dipelihara selama 3 bulan sejak diimport, sedangkan sapi wagyu dipelihara selama satu tahun setlah transfer dari breeding untuk mempertahankan marbling nya. Perjalanan dilanjutkan ke kandang pejantan wagyu dimana terdapat 24 ekor pejantan wagyu dan yang aktif ditampung adalah 8 ekor, sisanya untuk join Bull atau kawin alam. Usia Bull saat ini sudah sangat tua yaitu sekitar 8-9 tahun sehingga produksi semen mengalami penurunan. Kunjungan selanjutnya adalah kandang induk anak yang terdiri atas pedet baru lahir yang telah memiliki ikatan dengan induknya sehingga dipelihara bersama dengan induk sampai lepas sapih. Terakhir adalah mengunjungi kandang betina siap kawin, dimana pengamatan birahi dilakukan selama 24 jam dan setiap sapi  birahi akan dikelompokkan untuk di kawinkan secara inseminasi Buatan.

Materi selanjut

nya adalah kunjungan ke tempat perkawinan betina dengan menggunakan inseminasi buatan. dalam kesempatan ini Bapak Hirzi yang juga merupakan alumnus dari Fakultas Peternakan UB menjelaskan bahwa untuk IB masih menggunakan straw sapi wagyu yang diimport dari Amerika dengan haga 35-60 USD, namun sebagian juga memproduksi semen beku sendiri dari Bull wagyu yang terdapat di PT. Austasia. Selain mengimpor semen beku, PT Austasia juga mengimpor embrio beku yang sudah di transfer ke induk resipien dan berhasil dilahirkan usianya saat ini masih sekitar satu tahun. Keberhasilan service per conception adalah 2, 2 dengan keberhasilan kebuntingan adalah 70% baik menggunakan semen beku import atau semen beku buatan sendiri. Selain itu kami juga berkesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana penganangan sapi yang mengalami prolapsus uteri.

Hari ketiga, materi dilanjutkan dengan manejemen pemeliharaan pedet dari mulai lahir sampai lepas sapih di kandang Hutches (kandang individu pedet) yang disampaikan oleh Bapak Affan. Dalam kesempatan ini disampaikan bahwa di PT. Austasia pemeliharaan pedet dilakukan dalam dua sistem

yaitu pemeliharaan pedet yang digabung dengan induk bagi pedet-pedet yang sehat dan langsung menyusu pada induk, sedangkan bagi pedet-pedet yang kurang sehat dan tidak mau menyusu dipelihara di hutches. Performa ADG atau pertumbuhan bobot badan pedet di kandnag individu hanya sekitar 0.4 kg/hari lebih rendah dibandingkan pedet yang dipelihara bersama induk yaitu 0,7 kg/hari. Adapun tingkat kematian pedet adalah 5% dengan kasus penyakit yang sering ditemui adalah pneumonia.

Materi dilanjutkan dengan penampungan semen pada pejantan wagyu dan dilanjutkan dengan prosesing yang disampaikan oleh Bapak Hirzi. Untuk koleksi semen pada sapi wagyu membutuhkan waktu yang sangat lama dikarenakan rendahnya libido beberapa pejantan karena usianya yang sudah tua dan motilitas semen adalah 60%.

Materi selanjutnya adalah tentang manajemen breeding yang disampaikan oleh Bapak Kuncup

. Dalam kesempatan ini beliau menjelaskan tentang manajeme

n breeding secara umum mulai dari dasar dilakukannya perbibitan yang salah satunya mengacu pada permentan no 49 tahun 2016 tentang kebijakan import 1:5 (import 5 ekor disertai denagn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *